Rabu, 20 Mei 2009

anggur

Pandangan mata terasa sangat sejuk menatap pahon-pohon anggur yang berjejer rapi sepanjang alur-alurnya. Beberapa tandan mulai ranun siap untuk di panen. Hal yang sangat dinanti-nantikan oleh para petani adalah saat panen. Kelelahan sepanjang musim bertanam, menyiangi, memupuk, dan merawat terasa hilang begitu musim panen telah tiba. Yang ada adalah sukacita yang melimpah-limpah.

Tetapi sungguh tak dinyana, begitu panen dilakukan, rasa anggur yang dinanti berbeda dari harapan. Anggur yang seharusnya manis, ternyata asam. Sungguh kecewa hati pemilik kebun. Dalam kekesalan dan kemarahan yang meluap, dia menebas batang-batang anggur. Dia juga merobohkan tiang-tiang penyangga batang-batang anggur. Dia benar-benar telah menghancurkan kebun anggur itu dan hendak menggantinya.

Apa yang masih kurang dan yang belum dilakukan untuk sebuah kebun anggur yan baik? Sang pemilik kebun sudah tau bahwa kebuh itu berada dilereng bukit yang subur. Dia telah mengolah tanahnya dan memisahkan batu-batu yang mengganggu pertumbuhan benih anggur. Dia juga telah memilih untuk menanam hanya benih anggur pilihan. Dia telah membangun pos penjagaan di tengah-tengah kebun agar terhindar dari ulah orang yang hendak merusak. Dia bahkan telah menyediakan tempat pemerasan anggur jikalau panen kelak tiba. Sesungguhnya dia telah melakukan semua apa yang pantas sebagai petani anggur yang baik. Sayang sekali, ternyata semua itu tidak cukup untuk menghasilkan panen anggur yang baik.

Tahukah saudara bahwa Nabi Yesaya sedang mengumpamakan kita sebagai pohon-pohon anggur dan pemilik kebun adalah TUHAN sendiri? (Yesaya 5:1-7). Allah telah demikian merawat dan menjaga kita sepanjang hari. Di bahkan telah menyediakan apa-apa yang perlu untuk sebuah pertumbuhan. Namun ternyata yang menentukan bukan hanya apakah kita bertumbuh dan berbuah, tetapi lebih dari pada itu apakah buah yang kita hasilkan BAIK adanya?

Banyak sekali kita diajarkan untuk berbuah, tetapi kita kadang-kadang lupa bahwa tidak cukup untuk berbuah lebat, tetapi buah lebat itu juga harus manis. Artinya, kita tidak seharusnya terlihat begitu dewasa dalam rohani, seperti misalnya kita melayani, kita bahkan menjabat sebagai pelayan, kita aktif dalam kegiatan diakonia, namun sesungguhnya hati kita tidak murni. Kita melayani dengan membawa setumpuk motifasi. Kita sarat dengan kepentingan- kepentingan terselubung. Kita melayani oleh karena kita menginginkan sesuatu. Inilah orang yang kelihatan berbuah lebat tetapi sesungguhnya ketika Tuhan hendak “mencicipi” rasanya sungguh asam.

Jadi selain berbuah, yang sangat penting juga adalah kemurnian hati. Ingatlah bahwa Allah lebih melihat hati dari lahiriah kita. Memang hal-hal yang lahiriah itu akan menjadi sangat manis apabila lahir dan keluar dari hati yang murni dan tulus. Jadi sekarang, perlukah kita menipu diri sendiri dan menjadi kebun anggur yang subur berbuah lebat namun berasa asam? Ataukan kita menjadi kebuh anggur yang subur berbuah lebat dan berbuah manis? Semuanya berpulang kepada kemurnian hati kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar